Empat Lokasi Wisata Kapuas Hulu Jadi Sempel RIPPARDA

By on

Badan Perencanaan Pembanganunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Kapuas Hulu bekerjasama dengan Universitas Tanjungpura Pontianak menggelar seminar antara di Aula BPD Putussibau, Kamis (6/9) pagi. Kegiatan itu membahas Review Penyusunan Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah (RIPPARDA) di Kapuas Hulu. Beberapa perwakilan OPD Kapuas Hulu yang terkait turut hadir pada seminar itu.

Kepala Bappeda Kapuas Hulu, Abang Mohammad Nasir mengatakan, seminar tersebut bertujuan untuk menarik wisatawan, baik nusantara atau mancanegara. “Kami berkerjasama dengan Universitas Tanjungpura. Ada empat sampel lokasi wisata yang sudah diambil,” ucapnya, saat ditemui disela seminar.

Sampel lokasi pertama, kata Nasir adalah sekitaran Beluan Komplek di Kecamatan Hulu Gurung. Pada lokasi ini ada empat desa yaitu Landau Kupang, Bekuan, Mubung dan Nanga Tepuai. “Lokasi beluan kompleks ini ada gua yang masyarakat setempat menyebutnya Liang Menyadi, ini ada pemandangan dan historisnya yang menarik,” ucap Nasir.

Sampel kedua adalah lokasi Sarai Brunyau di Kecamatan Bunut Hulu. “Ini lokasinya ada airterjun dan dikembangkan sekitarnya tanaman kopi,” kata Nasir.

Sampel ketiga adalah Danau Lindung Empangau, Kecamatan Bunut Hilir. “Sebetulnya ada 23 danau lindung tapi yang diambil danau lindung Empangau, ini ada kreatitifatas masyarakatnya dalam mengelola sektor perikanan, ada rutinitas panen ikan bersama,” paparnya.

Sampel ke empat, kata Nasir adalah Pesisir Danau Sentarum di Desa Kedungkang di Kecamatan Batang Lupar. Ini adalah kawasan strategis nasional.

“Hanya saja untuk ke lokasi itu ada 16 km jalan yang berbatu, dihitung dari Desa Lanjak ke lokasi. Jalan yang masih terkendala,” ujarnya.

Akan tetapi disana ada Dusun Tekalong yang terkenal dengan tanaman pewarna, termasuk akar tradisional. “Ini sudah ekspor dari masyarakatnya. Adalagi keunikan betang, ada juga keunikan dari bukit babi. Bukit tersebut ada view danau sentarum,” papar Nasir.

Kapuas Hulu memang masih punya banyak potensi pariwisata tapi empat lokasi jadi sampel awal. Untuk memantau aspek pendukung pariwisata itu maka semua OPD terkait dan NGO sengaja diundang dalam seminar. “Jadi OPD beri masukan, sebelum seminar akhir,” tegasnya.

Dari sampleing ini baru keluar rencana induk di seminar akhir. Seminar akhir bisa di bulan november. Itu hasilkan dokumen yang bisa jadi pertimbangan bagi Pemerintah Daerah. Reverensi awalnya bisa ditindak ke perda dan perbup,” papar Nasir.

Kedepannya pembangunan pariwisata tentu butuh keterlibatan pemerintah, wirasawata, investor dan masyarakat. “karena ada banyak sektor bisa dibangun,” tuntas Nasir. (Tim KIP)

About KIP