Uncategorized

Cegah Stunting, Perhatikan Gizi dan Tumbuh Kembang Anak

Kasi Gizi Bidang Kesmas Dinkes Kapuas Hulu, Wahdah mengatakan kasus stunting (kerdil) di Kapuas Hulu memang cukup tinggi diantara kabupaten kota se Kalbar, namun bukan yang tertinggi. Dalam menurunkan angka stunting tersebut, bukanlah dilakukan upaya mengobati, namun lebih pada mencegahnya. “Anak diatas lima tahun sudah tidak dapat dilakukan lagi upaya pencegahan stunting ini. Kita tidak bisa menurunkan angka stunting dengan singkat,” ujar Wahdah, Selasa (23/4).

Pencegahan stunting, kata Wahdah, dapat dilakukan dengan memastikan pada 1000 hari pertama kehidupan sang anak terpenuhi gizinya. Saat hamil sang Ibu juga harus terpenuhi asupan gizinya, kemudian bersalinnya di fasilitas kesehatan. Berikutnya setelah anak lahir lakukan inisasi menyusui dini, dengan begitu bayi akan mendapatkan kolostrum atau antibodi terbaik bagi sang bayi. “Dari lahir hingga enam bulan sebaiknya bayi hanya minum Air Susu Ibu (ASI) saja, tidak susu formula,” tegas Wahdah.

Setelah enam bulan, lanjutnya, ASI sang Ibu memang tidak akan cukup untuk kebutuhan bayi, maka butuh Makanan Pendamping ASI (MPASI). “MPASI itu harus mengandung empat unsur, karbohidrat, protein hewani, kemudian sayur dan buah. Ini harus ada setiap kali anak makan, baru gizinya terpenuhi. Pemberian MPASI ini dilakukan sampai anak berusia 24 bulan,” tuturnya.

Kemudian hal terpenting lainnya adalah memantau tumbuh kembang anak. Caranya dengan membawa mereka setiap bulan ke Posyandu terdekat. “Anak dibawa ke Posyandu jadi ibu-ibu tahu perkembangan anaknya, ada buku juga untuk para ibu melihatnya,” ucap Wahdah.

Terkait upaya pencegahan stunting, kata Wahdah memang sudah menjadi komitmen Pemda Kapuas Hulu, sebab Bupati telah menetapkan peraturan bupati. Stunting tidak bisa diselesaikan oleh petugas kesehatan saja, sebab ada beberapa aspek yang tidak bisa dijangkau petugas kesehatan dan itu menjadi faktor stunting. “Contohnya seperti lingkungan pemukiman yang tidak baik; kemudian BAB sembarangan, ini baru 9 desa bebas BAB dari 282 desa, ini masih 97 persen. Belum lagi masalah air bersih, ketersediaan pangan dalam rumah tangga,” ujarnya.

Sebab itu, kata Wahdah penanganan stunting butuh peran semua pihak, baik dari OPD maupun masyarakat dan lembaga-lembaga terkait. “Jadi butuh komitmen bersama dalam mengatasi masalah stunting ini,” tuntasnya. (Tim KIP)

Most Popular

To Top